Kamis, 06 Oktober 2011

Biografi Jacob Salatun


Jacob Salatun (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 29 Mei 1927; umur 84 tahun) adalah salah seorang tokoh dirgantara Indonesia. Marsekal Muda TNI (Purn.) J. Salatun menjadi perencana berdirinya Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). dan menjadi Menteri Perindustrian Penerbangan pada Kabinet Dwikora III pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Pendidikan, profesi dan karir

J. Salatun mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Teknik Tinggi Surabaya dan Yogyakarta pada tahun 1944. Kemudian pada 1945 ia bergabung dengan Tentara Zeni Pelajar dan melanjutkan dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan (yang kemudian menjadi TNI Angkatan Udara), disini ia menjabat sebagai kepala bagian propaganda dari 1946 hingga 1956. Pada saat menjadi tentara dalam TKR Jawatan Penerbangan pada ini ia merintis karirnya bersama dengan Wiweko Soepono dan Nurtanio Pringgoadisuryo.

Pada tahun 1951 J. Salatun masuk Sekolah Ilmu Siasat AURI, dan berangkat ke New York, AS di tahun 1952 untuk belajar di US Armed Forces Information School (Sekolah Informasi untuk Angkatan Udara AS di New York. Sejak 1956-1968, J. Salatun menjabat sebagai Sekertaris Dewan Penerbangan/ Depanri dan menyelesaikan rencana berdirinya Lapan, yang kemudian dipimpinnya pada tahun 1971-1978. J. Salatun juga menjadi Ketua seksi penerbangan, Komisi Istilah, Lembaga Bahasa & Budaya departemen P & K pada tahun 1951-1966.

Selain kegiatan pada bidang kedirgantaraan pada tahun 1956-1962 ia menjadi anggota Panitia Sensor Film. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris Gabungan kepala-Kepala Staf Kementrian Pertahanan di tahun 1957-1962, serta menjadi Anggota MPRS pada 1960-1966 dan menjadi Anggota Dewan Perancang Nasional di tahun 1962-1964.

Pada 1963-1967 J. Salatun menjadi Wakil Ketua Proyek Pengembangan Roket Kartika I (1963-1967). Ia menjadi Project Officer Proyek Roket Ionosfer/ Angkasa Luar (1963-1967) dan disaat yang sama menjadi penasihat Ilmiah Menteri/ Panglima AU (1962-1965); Kepala Biro Riset MBAU (1966); Deputi Menteri Perindustrian Penerbangan (1966); Anggota DPR (1967-1968); Pembantu Pribadi KSAU bidang Riset, sejak 1979.

J. Salatun semakin mengukuhkan dirinya sebagai perintis bidang angkasa luar di Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Tulisan dan buku

Karya-karyanya antara lain adalah:

Ke Udara (1947)
Sejarah Penerbangan (1950)
Putra Angkasa (1954)
Menyingkap Rahasia Piring Terbang (1960)

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Jacob Salatun

Biografi Awaloedin Djamin


Awaloedin Djamin (lahir di Padang, Sumatra Barat, 26 September 1927; umur 83 tahun) adalah Kapolri periode 1978 - 1982.

Karier

Setamat SLTA, dia melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi (1949-1950). Masuk menjadi prajurit polisi, kemudian menempuh pendidikan di PTIK hingga lulus tahun 1955. Dia lalu ditempatkan pada bagian Sekretariat Jawatan Kepolisian Negara (1955) dan menjabat Kasi Umum Sekretariat Jawatan Kepolisian Negara (1958). Kemudian dia memperdalam studinya di University of Pitsburgh dan dilanjutkan ke University of Southern California, Amerika Serikat, hingga menggondol gelar PhD pada 1962.

Sepulang dari Amerika Serikat, Awaloedin menjabat sebagai Lektor Luar Biasa PTIK (1964). Kemudian, berturut-turut menjadi Direktur Kekaryaan Depak (1964), Anggota Musyawarah Pembantu Perencana Nasional (1965), Anggota DPRGR (1964-1966), Menteri Tenaga Kerja Kabiriet Ampera (1966), dan Deputi Pangak Urusan Khusus semasa Kapolri Hoegeng Iman Santoso (1968). Sebelum ditugaskan sebagai Duta Besar RI untuk Jerman Barat (1976), terlebih dulu dia menjadi D-rektur Lembaga Administrasi Negara (1970). Dan akhirnya, dia dipanggil pulang ke Jakarta untuk dilantik oleh Presiden Soeharto menjadi Kapolri, pada 26 September 1978.

Awaloedin menjabat Kapolri selama empat tahun, dari tahun 1978 sampai tahun 1982. Selain semasa ke-pemimpinannya organisasi Polri diarahkan pada kelembagaan yang dinamis dan profesional, pada masa Awaloedin pula KUHAP UU No. 8 Tahun 1981 sebagai hasil karya bangsa Indonesia sendiri disahkan DPR-RI. KUHAP sebagai pengganti Het Herziene Inlandsh Reglement (HIR), hukum acara pidana produk kolonial Belanda yang dianggap telah usang dan tidak manusiawi. Dalam hal ini, Polri berperan aktif menyumbangkan pokok-pokok pikiran untuk materi KUHAP baru itu.

Hasratnya dalam bidang pendidikan, ternyata belum sirna. Terbukti, Awaloedin masih pula mengabdikan dirinya dalam pendidikan dan pengembangan profesi kepolisian. Setelah tidak lagi menjadi Kapolri dia masih bersedia menjabat sebagai Dekan PTIK yang notabene berada di bawah Kapolri. Tapi kecintaan kepada Polri dan demi nusa dan bangsa membuat Awaloedin tidak mau terjebak dalam status simbol. Maka dia memilih tetap menerima jabatan Dekan PTIK.

Bintang Jasa

Awaloedin menerima sejumlah penghargaan sebagai tanda jasanya. Diantaranya menerima Bintang Dharma, Bintang Bhayangkara dan Bintang Mahaputra Adipradana. Juga Satya Lencana Perang Kemerdekaan (I dan II), SL Karya Bhakti, SL Yana Utama, SL Panca Warsa, SL Penegak dan SL Veteran Pejiiang RI. Dari luar negeri, dia menerima Das Gross Rreuz (Pemerintah Jerman Barat).

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Awaloedin Djamin

Biografi Mashuri Saleh


Mashuri Saleh (lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, 19 Juli 1929 – meninggal di Solo, Jawa Tengah, 1 April 2001 pada umur 71 tahun) dari ayah Ki Saleh Kromoastro adalah mantan Menteri Pendidikan dan Menteri Penerangan Indonesia.

Mashuri pernah ikut berjuang bersama Brigade V Batalyon 55 CSA di bawah pimpinan Letkol Slamet Riyadi di Solo. Salah seorang anak buahnya adalah Sri Mulyono Herlambang yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara.

Setelah kemerdekaan, Mashuri melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada dan memperoleh gelar sarjana hukum.

Menjadi menteri

Mashuri pernah bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi pada 1966 dan akhirnya mendapat kepercayaan untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973) dan Menteri Penerangan dalam Kabinet Pembangunan II (1973-1978). Pada tahun 1977-1982 Mashuri menjabat sebagai Wakil Ketua MPR/DPR (1977-1982) dari Golkar. Setelah itu, ia diangkat menjadi anggota DPA (1982-1986).

G30S

Mashuri adalah salah seorang tokoh penting sekitar kejadian G30S. Pada subuh 1 Oktober 1965, ia menyaksikan gerakan-gerakan militer yang mencurigakan di daerah Jakarta Pusat dan melaporkannya kepada Jenderal Soeharto yang kebetulan adalah tetangganya.

Ejaan Yang Disempurnakan

Pada masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada 23 Mei 1972 Mashuri mengesahkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam bahasa Indonesia yang menggantikan Ejaan Soewandi. Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.

Akhir hayat

Selama beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya, Mashuri menetap di Solo, tempat kelahiran istrinya. Ia menderita penyakit hepatitis hingga mencapai stadium empat dan pernah tiga kali dirawat di rumah sakit. Ia meninggal dunia di rumah kediaman keluarganya di Solo pada 1 April 2001. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo.

Keluarga

Mashuri meninggalkan seorang istri, Lies Mashuri, dan enam orang anak: Ani Angraini, Toto Wijayanto, Sri Pangastuti, Bambang Rusmanto, Djoko Riyadi Mashuri, dan Arinto Wahyuwigati.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Mashuri Saleh

Biografi Achmad Tirtosudiro


Ahmad Tirtosudiro (lahir di Plered, Purwakarta, Jawa Barat, 8 April 1922 – meninggal 9 Maret 2011 pada umur 88 tahun)[1] adalah seorang tokoh Indonesia dalam berbagai bidang dan jabatan, mulai dari karyawan kereta api sampai menjadi Jenderal, Kepala Bulog, Duta Besar, Direktur Jenderal dan terakhir sebagai Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) periode 1999-2003. Mantan Pj. Ketua Umum ICMI periode 1997-2000, ini juga berperan dalam mengantarkan Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Achmad Tirtosudiro

Biografi Roesmin Noerjadin


Roesmin Noerjadin (lahir di Malang, Jawa Timur, 31 Mei 1930; umur 81 tahun) adalah Kepala Staf TNI Angkatan Udara dari 31 Maret 1966 hingga 10 November 1969. Ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan.

Pendidikan yang pernah dienyam antara lain, Sekolah Perwira Penerbang AURI, Kalijati (1954) dan RAF'S Flight Instructor School (1955). Jabatan yang pernah dipegang sebagai, Penjabat Komandan Skuadron XI (1958-1962), Kastaf Kohanudnas (1962-1963), dan Kastaf Kohanud (1963-1964).

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Roesmin Noerjadin

Biografi Letnan Jenderal TNI Sugih Arto


Letnan Jenderal TNI Sugih Arto meninggal pada 29 Desember 2008 adalah Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1966 - 1973. Pada tahun 1961 hingga 1963, ia adalah Duta Besar RI untuk Singapura. Tidak banyak sejarah tentang beliau, bahkan tanggal lahirnya pun tidak dapat dipastikan kapan dan dimana.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Letnan Jenderal TNI Sugih Arto

Biografi Laksamana Madya Laut Jatidjan

Laksamana Madya Laut Jatidjan (lahir 27 November 1926 – meninggal di Jakarta, 12 Januari 2008 pada umur 81 tahun) adalah Menteri Perhubungan Kabinet Dwikora III dan Menteri Maritim/Kelautan pada Kabinet Ampera I pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Meninggal

Jatidjan meninggal pada 12 Januari 2008, diakibatkan komplikasi penyakit radang usus akut dan prostat. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Laksamana Madya Laut Jatidjan

Biografi Djamin Ginting

Djamin Ginting adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo. Djamin Ginting dilahirkan di desa Suka, kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Karier kemiliteran

Memimpin pasukan setelah kekalahan Jepang

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang. Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara. Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Ia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara. Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Pionir pejuang

Dikemudian hari anggota pasukan Djamin Ginting ini akan mucul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera bagian Utara dan Karo. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain lain adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini. Ketika Letkol. Djamin Gintings menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan, dia berselisih paham dengan Kolonel M. Simbolon yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Kodam II/Bukit Barisan. Djamin Ginting tidak sepaham dengan tidakan Kolonel Simbolon untuk menuntut keadilan dari pemerintah pusat melalui kekuatan bersenjata. Perselisihan mereka ketika itu sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi yang melanda Indonesia. Disatu pihak, Simbolon merasa Sumatera dianak-tirikan oleh pemerintah pusat dalam bidang ekonomi. Dilain pihak, Ginting sebagai seorang tentara profesianal memegang teguh azas seorang prajurit untuk membela negara Indonesia.

Operasi Bukit Barisan

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Inf Djamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Mengakhiri karier

Dipenghujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai seorang Duta Besar untuk Kanada. Di Kanada ini pulalah Djamin Ginting, mengakhiri hayatnya.

Jabatan yang pernah diduduki

Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan
Assisten Dua Bagian Perang di TNI
Panglima TT I Bukit Barisan.
Panglima Sumatera Utara.
Dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua.
Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk GOLKAR.

Keluarga

Djamin Ginting meninggalkan 5 orang anak. Salah satunya seorang putri bernama Rimenda br Ginting, SH, yang sekarang menjabat sebagai ketua umum Himpunan Masyarakat Karo Indonesia.

Karya Tulis

Semasa hidupnya, Djamin Gintings menulis beberapa buku. Satu diantaranya "Bukit Kadir" mengisahkan perjuangannya di daerah Karo sampai ke perbatasan Aceh melawan Hindia Belanda. Seorang anggotanya, Kadir, gugur disebuah perbukitan di Tanah Karo dalam suatu pertempuran yang sengit dengan pasukan Belanda. Bukit itu sekarang dikenal dengan nama Bukit Kadir.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Djamin Ginting

Biografi Moh. Said Reksohadiprodjo


Moh. Said Reksohadiprodjo (lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 21 Januari 1917 – meninggal 21 Juni 1979 pada umur 62 tahun) adalah Deputi Menteri Pendidikan Dasar pada Kabinet Dwikora III periode 27 Maret 1966 - 25 Juli 1966. Ada sebuah buku berjudul Mohammad Said Reksohadiprodjo di mata sahabatnya, di mata pers, dalam foto, tentang ide-idenya dalam kata dan gambar yang juga menceritakan tentang kehidupan beliau, namun sayang buku itu pun susah untuk ditemukan, dan selain buku itu tidak ada sejarah dari sumber lain yang menceritakan kehidupan beliau.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Moh. Said Reksohadiprodjo

Biografi Basuki Rahmat


Jenderal Basuki Rahmat (lahir di Tuban, Jawa Timur, 4 November 1921 – meninggal di Jakarta, 8 Januari 1969 pada umur 47 tahun) adalah seorang jenderal dan politikus Indonesia. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.

Karier militer

Sebelum menjadi militer, sebenarnya Basuki muda ingin menjadi guru hingga meneruskan pendidikannya di Sekolah guru Muhammadiyah, Yogyakarta. Akan tetapi jalan hidup membuatnya megikuti pendidikan Pembela Tanah Air. Selepas pendidikan Basuki ditempatkan di Pacitan dengan pangkat shodancho (Komandan Pelopor).

Memasuki era perjuangan kemerdekaan, ia juga turut dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat Maospati, Jawa Timur. Bakat kepemimpinannya yang menonjol membuat ia ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 2 Resimen 31 Divisi IV Ronggolawe dan kemudian ditunjuk menjadi Komandan Batalyon 16 Brigade 5 Divisi I Jawa Timur.

Orde baru

Dalam posisi pemerintahan beliau pernah menjabat sebagai Menteri Veteran Letnan dalam Kabinet Dwikora pimpinan Soekarno pada periode 1964-1966. Ia juga merupakan salah satu saksi kunci perisitiwa Supersemar beserta Jenderal Amirmachmud dan Jenderal M. Jusuf.

Meninggal dunia

Ia wafat pada 8 Januari 1969 akibat serangan jantung dan dimakamkan keesokan harinya di TMP Kalibata, Jakarta.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Basuki Rahmat

Kabinet Dwikora III [27 Maret 1966 - 25 Juli 1966]

Kabinet Dwikora III atau Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan Lagi adalah nama kabinet pemerintahan di Indonesia dengan masa kerja dari 27 Maret 1966 sampai 25 Juli 1966.[1] Presiden pada kabinet ini adalah Soekarno.

Susunan kabinet

Perdana Menteri

1 Presiden / Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata / Mandataris MPRS / Pemimpin Besar Revolusi Ir. Soekarno

Umum

2 Wakil Perdana Menteri untuk Urusan Umum J. Leimena

Sekretariat Negara

Sekretaris Negara : Moch. Ichsan
Sekretaris Pribadi Presiden untuk urusan Khusus : S. Munadjat Danusaputro
Sekretaris Kabinet/Presidium : Brigjen. Hugeng Imam Santoso
Wakil Sekretaris Negara/Sekretaris Presiden : Djamin

Kantor Urusan Pelayanan Umum Sipil

Kantor Administrasi Negara

Badan Urusan Pangan

Sosial dan Politik

7 Wakil Perdana Menteri untuk urusan Sosial dan Politik Adam Malik
8 Asisten Wakil Perdana Menteri untuk urusan Sosial dan Politik Mayjend. Mursid

Menteri Dalam Negeri : Mayjen. Basuki Rachmat

Departemen Dalam Negeri : Mayjen. Basuki Rachmat
Departemen Pembangunan Komunitas Desa : Aminuddin Azis
Departemen Urusan Pertanian : Rudolf Hermanses
Departemen Transmigrasi : Laksamana Madya Sujono Suparto
Menteri Luar Negeri : Adam Malik
Menteri Penerangan : WJ Rumabi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan : Sarino Mangunpranoto
Departemen Pendidikan Dasar : Moh. Said Reksohadiprodjo
Departemen Pendidikan Tinggi : Mashuri
Departemen Keolahragaan : Maladi
Departemen Kebudayaan : Sarino Mangunpranoto
Menteri Agama : Prof. KH Sjaifuddin Zuchri
Departemen Urusan Agama : Prof. KH Sjaifuddin Zuchri
Departemen Urusan Haji : Prof. KH Farid Ma’ruf
Asisten Menteri Agama untuk hubungan dengan ulama : Marzuki Jatim
Menteri Sosial : Muljadi Djojomartono
Menteri Kehakiman/Ketua MA : Wirjono Prodjodikoro
Menteri Tenaga Kerja : Komisaris Polisi Awaluddin Djamin
Menteri Kesehatan : Mayjen. Satrio

Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan

29 Wakil Perdana Menteri untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sultan Hamengkubuwono IX
30 Asisten I WaperdaM untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Mayjen. Ali Sadikin
31 Asisten II WaperdaM untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Arifin Harahap
32 Asisten III WaperdaM untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan JD Massie
33 Asisten IV WaperdaM untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Brigjen, A. Sukendro
34 Asisten V WaperdaM untuk Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan TD Pardede

Menteri Perdagangan : Brigjen. D. Ashari

Departemen Perdagangan : Kol. Abdurachman Prawirakusumah
Departemen Kerjasama Usaha : Brigjen. Achmad Tirtosudiro
Menteri Keuangan : Sumarno
Departemen Keuangan : Sumarno
Departemen Bank Sentral/Gubernur Bank Indonesia : Radius Prawiro
Departemen Anggaran Negara: H. Pandelaki
Departemen Restrukurisasi Bank dan Penanaman Modal : Brigjen. Suhardi
Menteri Pekerjaan Umum dan Energi : Sutami
Departemen Kelistrikan dan Energi : Brigjen. Hartono
Departemen Pengairan : PC Harjosudirdjo
Departemen Infrastruktur Jalan : Mayjen. Suharto
Departemen Perumahan dan Pembangunan : David Chen Chung
Menteri Pertambangan, Perminyakan dan Gas Alam : Mayjen. Ibnu Sutowo
Departemen Perminyakan dan Gas Alama : Mayjen. Ibnu Sutowo
Departemen Pertambangan : Brigjen. R. Pirngadi
Menteri Perindustrian Dasar/Ringan : Brigjen. M. Jusuf
Departemen Perindustrian Dasar : Brigjen. M. Jusuf
Departemen Perindustrian Ringan : Laksamana Madya Suharnoko Harbani
Departemen Perindustrian Laut : Mardanus
Departemen Perindustrian Udara : Komodor Udara J. Salatun
Menteri Perindustrian Tekstil dan Kerajinan : Hadi Thayeb
Departemen Perindustrian Tekstil : Sjafiun
Departemen Perindustrian Kerajinan (ad interim) : Hadi Thayeb
Menteri Pertanian : Frans Seda
Departemen Pertanian : Sukarno
Departemen Perkebunan : Frans Seda
Departemen Kehutanan : Soedjarwo
Departemen Perikanan dan Hasil Laut : Laksmana Madya. Hamzah Atmohandojo
Menteri Pembangunan untuk Proyek Khusus : Laksamana Madya Makki Perdana Kusumah
Departemen Pembangunan Trans Sumatera : Bratanata
Departemen Proyek Khusus : Laksamana Madya Makki Perdana Kusumah
Menteri Perhubungan : Laksmana Madya. Jatidjan
Departemen Perhubungan Darat : Brigjen. Utojo Utomo
Departemen Perhubungan Laut : Commodore Susatyo Mardi
Departemen Perhubungan Udara : Partono
Departemen Pos dan Telekomunikasi : SH Simatupang

Catatan: Dinas Pariwisata dibawah pengawasan langsung Wakil Perdana Menteri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pertahanan dan Keamanan

72 Wakil Perdana Menteri Pertahanan dan Keamanan Letjen. Soeharto

Menpangad : Letjen. Soeharto
Menpangal : Laksamana Madya. Moeljadi
Asisten Menpangal : Mayjen. Hartono
Menpangau : Komodr Rusmin Nurjadin
Menteri Kepolisian : Komisioner Polisi Sutjipto Judodihardjo
Menteri Demobilisasi dan Pensiunan Tentara : Mayjen. Sarbini
Jaksa Agung : Brigjen. Sugih Arto

Institusi Politik

Wakil Perdana Menteri Institusi Politik : Roeslan Abdulgani
Asisten Wakil Perdana Menteri Institusi Politik : KH Abdul Fattah Jasin

Sekretaris Jenderal Front Nasional : Achmad Sjaichu
Asisten Sekretaris Jenderal :
Moh. Djambek
Mayjen. Djamin Ginting
Balitbang : Suhadi Reksowardojo
Bappenas : Suharto
Batan : Prof. GA Siwabessy
Badan Pembangunan Semangat Revolusi : Roeslan Abdulgani
Badan Ketahanan Nasional : Mayjen. Wilujo Puspojudo

Hubungan dengan Institusi Politik

Wakil Perdana Menteri mengenai Hubungan dengan Institusi Politik : KH Idham Chalid

Ketua MPRS : Maj. Gen. Wilujo Puspojudo
Wakil Ketua MPRS :
KH Idham Chalid
Ali Sastroamidjojo
Anggota Badan Penasihat MPRS I : Sartono
Anggota Badan Penasihat MPRS II : Prof. Sujono Hadinoto
Ketua DPRGR : Laksamana Madya. Mursalin Daeng Mamangung
Wakil Ketua DPRG :
Laksamana Madya. Mursalin Daeng Mamangung
A. Sjaichu
Brigjen. Syarief Thayeb
Asmara Hadi
Badan Pengawasan Negara : Mayjen. Suprajogi

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Kabinet Dwikora III [27 Maret 1966 - 25 Juli 1966]