Selasa, 23 Agustus 2011

Biografi Sutomo [Bung Tomo]


Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Masa muda

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Perjuangan

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi.

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Gelar Pahlawan Nasional

Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

Kontroversi

Pada tahun 1950-an di Surabaya, Bung Tomo berusaha sebagai penolong tukang becak pertama yakni dengan mendirikan pabrik sabun melalui uang iuran tukang becak untuk pendirian pabrik sabun. pabrik tersebut didirikan oleh dan untuk tukang becak akan tetapi kelanjutan ide pendirian pabrik sabun berhasil nihil dan tanpa adanya pertanggungan-jawaban keuangan.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com


continue reading Biografi Sutomo [Bung Tomo]

Biografi Burhanuddin Harahap


Burhanuddin Harahap (ejaan lama: Boerhanoeddin Harahap) (lahir di Medan, Sumatera Utara 1917 - Jakarta, 14 Juni 1987) adalah Perdana Menteri Indonesia ke-9 yang bersama Kabinet Burhanuddin Harahap memerintah antara 12 Agustus 1955 sampai 24 Maret 1956.

Burhanuddin menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM)Yogyakarta. Dia bergabung dengan Partai Masyumi pada tahun 1946 dan kemudian diangkat menjadi Ketua Fraksi Masyumi di DPRS RI.

Ia meninggal di RS Jantung Harapan Kita dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

continue reading Biografi Burhanuddin Harahap

Biografi R.M. Suwandi


R.M. Suwandi Lahir pada 25 Oktober 1904. Mr. Soewandi (1899) adalah Menteri Kehakiman Kabinet Sjahrir I (14 November 1945 - 12 Maret 1946) dan Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946 - 22 Juni 1946). Ia juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947) Serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1955 hingga tahun 1956 pada Kabinet Burhanuddin Harahap.

Setelah lulus dari sekolah pangreh praja, Soewandi memperoleh gelar sarjana hukum dan ijazah notaris. Berlatar belakang di bidang hukum, Soewandi kemudian dicalonkan menjadi Menteri Kehakiman dalam Kabinet Sjahrir II dan Kabinet Sjahrir III.

Dalam Kabinet Sjahrir III, Soewandi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran, saat itu ia merumuskan sistem ejaan baru yang kemudian dikenal dengan nama sistem Ejaan Soewandi atau dikenal juga sebagai sistem Ejaan Republik. Ejaan Soewandi menggantikan Ejaan van Ophuijsen pada tanggal 19 Maret 1947 dan berlaku selama 25 tahun sebelum diganti oleh pemerintah Orde Baru dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada bulan Agustus 1972.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com


continue reading Biografi R.M. Suwandi

Kabinet Burhanuddin Harahap


Kabinet Burhanuddin Harahap bertugas pada periode 12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956. Kabinet ini demosioner pada 1 Maret 1956 seiringan dengan diumumkannya hasil pemilihan umum pertama Indonesia. Kabinet ini adalah Kabinet koalisi dengan Masyumi sebagai intinya, sedang partai Nasional Indonesia (PNI) menjadi partai oposisi. Salah satu program Kabinet Burhanuddin Harahap adalah “mengembalikan kewibawaan (gezag) moral pemerintah, dalam hal ini kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat terhadap pemerintah”.

Selain itu, oleh A.B. Lapian dkk, kabinet ini juga mencantumkan dalam programnya pelaksanaan pemilihan umum, desentralisasi, masalah inflasi, pemberantasan korupsi, Perjuangan Irian Barat dan politik kerja sama Asia - Afrika berdasarkan politik bebas aktif. Kabinet ini terkenal dalam Sejarah Tatanegara Indonesia karena pada masa kabinet inilah berhasil melaksanakan Pemilihan Umum yang pertama kali sejak Indonesia Merdeka, untuk memilih anggota-anggota DPR (29 September 1955) dan memilih anggota konstituante tanggal 15 Desember 1955 (UU Nomor 7 tanggal 7 April 1955). Kabinet ini juga yang mengembalikan manfaatnya setelah Dewan Perwakilan Rakyat hasil Pemilu terbentuk pada bulan Maret 1956.

Kabinet Burhanuddin Harahap domissioner pada tanggal 1 Maret 1956 seiring dengan diumumkannya hasil pemilihan umum pertama di Indonesia. Kabinet ini merupakan kabinet terakhir yang pembentukannya didasarkan atas perimbangan kekuatan parlemen sementara. Setelah itu di mulai kembali kabinet baru yang dibentuk berdasarkan atas perimbangan kekuatan dalam parlemen hasil pemilu. Yaitu Kabinet Ali – Rum – Idham kabinet baru yang dilantik tanggal 24 Maret 1956 dan serah terima dengan kabinet Burhanuddin Harahap tanggal 26 Maret 1956.

A. Sejarah Terbentuknya Kabinet Burhanuddin Harahap

Kabinet Ali – Arifin jatuh akibat dari pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo yang diangkat sebagai KSAD menggantikan Jenderal Bambang Sugeng dengan pangkat Jenderal Mayor, yang diboikot Kolonel Zulkifli Lubis wakil KSAD yang merasa lebih berhak menduduki KSAD tersebut dari Bambang Utoyo yang juga invalid. Kejadian ini tanggal 27 Juni 1955 yang berakibat pelantikan Bambang utoyo gagal, Kolonel Zulkifli Lubis diskorsing sementara, tetapi akhirnya dicabut kembali.

Kejadian membuat wibawa pemerintah dalam hal ini Kabinet Ali – Arifin jatuh terutama terhadap Angkatan Bersenjata khususnya Angkatan Darat. Akhirnya kabinet ini menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden pada tanggal 24 Juli 1955. Sebagai gantinya Wakil Presiden Dr. Muh. Hatta menunjuk Mr. Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet. Kejadian ini baru pertama kali di Indonesia, formatir kabinet ditunjuk oleh Wakil Presiden sebagai akibat dari kepergian Soekarno naik Haji ke Mekkah. Kabinet ini terbentuk pada tanggal 11 Agustus 1955, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 141 Tahun 1955 tertanggal 11 Agustus 1955 dan mulai bekerja setelah dilantik tanggal 12 Agustus 1955.

Kabinet Burhanuddin Harahap adalah merupakan kabinet koalisi yang terdiri atas beberapa partai, bahkan hamper merupakan Kabinet Nasional, sebab jumlah partai yang tergabung dalam koalisi kabinet ini berjumlah 13 partai. Tetapi karena masih ada beberapa partai yang sebagai oposisi tidak duduk dalam kabinet seperti PNI dan beberapa partai lainnya, maka kabinet ini termasuk kabinet koalisi.

Jumlah Menteri seluruhnya termasuk Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, Menteri Departemental, Menteri Muda, dan Menteri Negara semuanya 23 orang. Menurut partainya para Menteri itu sebagai berikut:

a. Masyumi (4 menteri)

b. PIR Hazairin (2 Menteri)

c. PSII (2 Menteri)

d. Demokrat (1 Menteri)

e. NU (2 Menteri)

f. PSI (2 Menteri)

g. PKRI (1 Menteri)

h. Partai Buruh (2 Menteri)

i. PRN (2 Menteri)

j. Parindra (2 Menteri)

k. Parkindo (1 Menteri)

l. PRI (1 Menteri)

m. Non Partai (1 Menteri)

Kabinet ini didominir oleh Partai Masyumi, walaupun terdapat banyak partai lain tersangkut di dalamnya, tetapi seakan-akan hanya pelengkap saja. Sehingga sementara pihak ada yang menyebut kabinet sebagai Kabinet Masyumi karena Masyumi yang paling banyak mawarnai kabinet ini. Dalam kabinet ini PNI tidak duduk didalamnya dan otomatis bertindak sebagai partai oposisi, begitu juga PKI yang menjadi musuh Masyumi tidak duduk dalam kabinet. Seakan-akan kabinet sebagai ganti Kabinet Ali-Wongso-Arifin di mana Masyumi tidak ikut dan sebagai oposisi.

Komposisi Menteri-menteri dalam kabinet ini adalah sebagai berikut:

1. Perdana Menteri : Mr. Burhanuddin Harahap

2. Wakil Perdana Menteri I : R. Janu Permadi

3. Wakil Perdana Menteri II : Harsono Cokroaminoto

4. Menteri Luar Negeri : Mr. Anak Agung Gede Agung

5. Menteri Dalam Negeri : Mr. R. Sunaryo

6. Menteri Pertahanan : Mr. Burhaniddin Harahap

7. Menteri Keuangan : Prof. Dr. Sumirto Joyohadikusumo

8. Menteri Perekonomian : I.J. Kasimo

9. Menteri Pertanian : Muhammad Sarjan

10. Menteri Perhubungan : F. Laoh

11. Menteri Muda Perhubungan : Asroruddin

12. Menteri Agraria : Mr. Gunawan

13. Menteri Pekerj. Umum & Tenaga : R. Panji Suroso

14. Menteri Kehakiman : Mr. Lukman Wariadinata

15. Menteri Perburuhan : Iskandar Tejakusuma

16. Menteri Sosial : Sudibyo

17. Menteri Agama : K. H. Muhammad Ilyas

18. Menteri PP & K : Prof. Ir. Suwandi

19. Menteri Kesehatan : Dr. J. Leimena

20. Menteri Penerangan : Syamsuddin Sutan Makmur

21. Menteri Negara : Abdul Halim

22. Menteri Negara : Sutomo/ Bung Tomo

23. Menteri Negara : Drs. Comala Ajaib Nur

Hampir semua Menteri dalam kabinet ini adalah wajah baru, Cuma beberapa orang saja yang sudah duduk dalam Kabinet Ali I mereka di antaranya:

a. Mr. Sunaryo yang menjadi Menteri Dalam Negeri Kabinet Ali-Arifin sesudah Mr. Hazaairin mundur sebagai menteri dalam Negeri sejak 17 November 1954.

b. R.P. Suroso sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Ali I sekarang sebagai Menteri Pekerja Umum dan Tenaga.

c. Sudibyo dulu pernah duduk dalam Kabinet Ali I sebagai Menteri Urusan Kesejarahan Rakyat, tetapi ia mengundurkan diri bersama teman separtainya (PSII) yaitu Abikusno Cokrosuyoso sejak 14 September 1953, sekarang sebagai Menteri Sosial.

B. Program Kabinet Burhanuddin Harahap

Kabinet Burhanuddin Harahap ini mempunyai Program Kabinet yaitu:

1. Mengembalikan kewibawaan (Gezag) moril pemerintah Cq kepercayaan Angkatan Darat dan Masyarakat kepada Pemerintah.

2. Melaksanakan Pemilihan Umum menurut rencana yang sudah diitetapkan dan menyegerakan terbentuknya parlemen baru.

3. Menyelesaikan perundang-undangan desentralisasi sedapat-dapatnya dalam tahun 1955 ini juga.

4. Menghilangkan faktor-faktor yang menimbulkan inflasi.

5. Memberantas korupsi.

6. Meneruskan perjuangan mengembalikan Irian Barat ke dalam Wilayah Republik Indonesia.

7. Memperkembangkan politik kerja sama Afrika – Asia berdasarkan politik bebas dan aktif menuju perdamaian.

Program tersebut diatas cukup praktis dan tidak terlalu banyak. Diantaranya program kabinet ini ada yang dapat dilaksanakan, tapi juga ada yang belum dapat terlaksana. Memang kita menyadari sekali bahwa kabinet ini tidak berumur panjang, hanya sekitar 6,5 bulan saja. Program yang belum terlaksana adalah Pengembalian Irian Barat ke dalam Wilayah Negara Indonesia. Usaha ini baru berhasil pada masa pemerintahan Kabinet Kerja III yaitu pada tanggal 1 Mei 1963.

Program Kabinet yang berhasil dengan baik adalah

1. Mengadakan perbaikan ekonomi, termasuk di dalamnya keberhasilan pengendalian harga, menjaga agar jangan terjadi inflasi dan sebagainya. Dalam masalah ekonomi kabinet ini berhasil cukup baik. Dapat dikatakan kehidupan rakyat semasa kabinet cukup makmur, harga barang tidak melonjak naik akibat inflasi.

2. Berhasil ,menyelenggarakan pemilihan umum untuk anggota-anggota DPR.

3. Berhasil mengembalikan wibawa pemerintah terhadap Angkatan Darat

Pemilihan umum di Indonesia yang pertama di selenggarakan pada tanggal 29 September 1955. Satu setengah bulan setelah terbentuknya kabinet ini. Sebagai ketua Lembaga Pemilihan Umum adalah Menteri Dalam Negeri waktu itu yaitu: Mr. Sunaryo yang berasaskan langsung, umum. Bebas, dan rahasia alias LUBER.

Yang paling menarik dari pemilihan umum saat itu, semua kontestan ikut duduk dalam kepanitian Pemilu, mulai tingkat pusat sampai ke PPD, PPS bahkan sampai ke KPPS. Biasa dikatakan yang menjadi panitia Pemilihan Umum waktu itu adalah Pemerintah bersama Parpol. Sehingga karena Parpol yang menjadi kontestan pemilu, terjun juga dalam kepanitiaan, maka keadilan dan keberhasilan jalannya pemilu lebih terjamin sesuai dengan asas langsung, umum, bebas, dan rahasia. Sehingga kepanitiaan yang mana kontestan ikut terlibat di dalamnya lebih baik. Sebab apabila seorang anggota panitia mau melakukan kecurangan takut dan segan kepada panitia lain yang dari partai lain. Maka ia akan jaga diri Partainya (Bibit.1985:168).

Hasil dari pemilihan umum tanggal 29 September 1955 adalah:

1. PNI : 57 kursi 15. Partai Buruh : 2 kursi

2. Masyumi : 57 kursi 16. PRI : 2 kursi

3. Partai NU : 45 kursi 17. PRIM : 2 kursi

4. PKI : 39 kursi 18. AKUI : 1 kursi

5. PSII : 8 kursi 19. ACOMA : 1 kursi

6. Parkindo : 8 kursi 20. PPTI : 1 kursi

7. Partai Katolik : 8 kursi 21. PRD : 1 kursi

8. PSI : 6 kursi 22. R.Sujono P : 1 kursi

9. PERTI : 5 kursi 23. PIR Wongso : 1 kursi

10. IPKI : 4 kursi 24. PIR Hazairin : 1 kursi

11. GPP : 4 kursi 25. Permei : 1 kursi

12. PRN : 2 kursi 26. Baperki : 1 kursi

13. P3RI : 2 kursi 27. Parindra : 1 kursi

14. Murba : 2 kursi 28. Peratuan Daya : 1 kursi

Total semua berjumlah 257 kursi

C. Jatuhnya Kabinet Burhanuddin Harahap

Kabinet Burhanuddin Harahap memerintah hanya selama 5 – 6 bulan saja, tetapi banyak mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan sebagaimana kami tuturkan di atas. Sebenarnya kabinet ini di dalam menjalankan pemerintahan kompak dan utuh, tidak ada pertentangan dan keretakan dalam tubuh kabinet. Begitu juga tidak ada pertentangan antar partai yang ikut dalam koalisi kabinet ini, tidak seperti kabinet-kabinet sebelumnya. Sebaliknya kelompok oposisi seperti : PNI dan sebagainya tidak terlalu berusaha menjatuhkan kabinet. Sebenarnya kabinet ini masih berjalan baik. Cuma Presiden kurang merestui kabinet ini, karena yang menunjuk Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet adalah drs. Muh. Hatta.

Setelah hasil pemungutan suara diumumkan dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956 pukul 10.00 siang Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilihan umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa selagi tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara Ethika politik demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya, setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun konstituante.

Jadi kabinet ini jatuh tidak dikarenakan keretakan di dalam tubuh kabinet, juga bukan karena dijatuhkan oleh kelompok oposisi yang mencetuskan mosi tidak percaya dari parlemen, tetapi merasa tugasnya sudah selesai. Kabinet terus bekerja sebagai Kabinet Domissioner selama 20 hari yaitu sampai terbentuknya kabinet baru yakni Kabinet Ali – Rum – Idham yang dilantik tanggal 24 Maret 1956 dan serah terima dengan Kabinet Burhanuddin Harahap tanggal 26 Maret 1956. Setelah itu Eks Perdana Menteri ataupun Menteri lagi sampai kini dalam kabinet mana pun juga dan dimana pun juga.

Daftar Pustaka

A.B. Lapian dkk.1996. TERMINOLOGI SEJARAH 1945-1950 & 1950-1959. Jakarta: CV. Defit Prima Karya Jakarta

Siregar, Insan Fahmi.2008. Sejarah Indonesia Kontemporer. Semarang

Soegito, A.T. 1987. Sejarah Ketatanegaraan Republik Indonesia. Semarang

Suprapto, Bibit.1985. Perkembangan Kabinet dan Pemerintah di Indonesia. Malang: Ghalia Indonesia

Ricklef, M.C. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

Source: Wikipedia Dan Bunga Jiwa


continue reading Kabinet Burhanuddin Harahap

Kabinet Ali Sastroamidjojo I [30 Juli 1953-12 Agustus 1955]



Kabinet Ali Sastroamidjojo I, sering disebut Kabinet Ali-Wongso atau Kabinet Ali-Wongso-Arifin, memerintah pada periode 30 Juli 1953 - 12 Agustus 1955.

01 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo
02 Wakil Perdana Menteri Wongsonegoro Dan Zainul Arifin
03 Menteri Luar Negeri R. Sunarjo
04 Menteri Dalam Negeri Hazairin
05 Menteri Perdagangan Iskak Tjokrohadisurjo
06 Menteri Keuangan Ong Eng Die
07 Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri
08 Menteri Kehakiman Djody Gondokusumo
09 Menteri Penerangan FL Tobing
10 Menteri Perhubungan Abikusno Tjokrosujoso
11 Menteri Muda Menteri Perhubungan A. Be. De Rozari
12 Menteri Pekerjaan Umum Rooseno
13 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Yamin
14 Menteri Perburuhan Sutan Muchtar Abidin
15 Menteri Pertanian Sadjarwo
16 Menteri Agama Masjkur
17 Menteri Kesehatan (a.i.)FL Tobing
18 Menteri Sosial Pandji Suroso
19 Menteri Negara Sudibjo (Urusan Kesejahteraan Umum) Dan Mohammad Hanafiah (Urusan Agraria)

Catatan:

1. Iwa Kusumasumantri mengundurkan diri sebelum selesai masa jabatannya dan posisinya dibiarkan kosong.
2. Abikusno Tjokrosujoso mengundurkan diri. Digantikan sementara oleh Rooseno pada 29 September 1953.
3. Rooseno dibebaskan dari tugas sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada 12 Oktober 1953, dipindahkan secara tetap sebagai Menteri Perhubungan. Mohammad Hasan menggantikan posisi Rooseno.
4. Lie Kiat Teng (Mohammad Ali) masuk menggantikan pejabat sementara FL Tobing.
5. Sudibjo mengundurkan diri. Dirangkap sementara Wongsonegoro sampai akhirnya diisi oleh Siradjuddin Abbas.
6. Mohammad Hanafiah digantikan oleh I Gusti Gde Raka.

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com


continue reading Kabinet Ali Sastroamidjojo I [30 Juli 1953-12 Agustus 1955]