Search Article Here...! [Klik Kanan Untuk Mengetikkan Pencarian]

Kamis, 24 November 2011

#

Biografi Bustanil Arifin


Bustanil Arifin (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925 – meninggal di Los Angeles, Amerika Serikat, 13 Februari 2011 pada umur 85 tahun) adalah seorang politikus Indonesia. Ia pernah menjabat Kepala Badan Urusan Logistik dan Menteri Koperasi Indonesia. Ia menikah dengan R.A. Suhardani.

Masa kecil pria berambut tipis kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925, ini tampaknya sangat mempengaruhi kebiasaan gaulnya. Saat kecil, dia anak gaul dan tergolong nakal. Satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, itu sering kali berkelahi. Suatu ketika, Bustanil kecil berkelahi dengan anak yang badannya lebih besar. Tentu saja dia kalah. Lawannya yang berbadan besar itu dengan gampang mengangkat tubuhnya, lalu mengempaskan dan tergores kawat berduri. Bagian dalam lengan Bustanil sobek 10 cm yang berbekas hingga hari tuanya.Maka ketika, anak dan cucunya suka berkelahi, dia pun memaklumi bahkan senang melihatnya. Ayah empat anak ini menyukai suasana keceriaan bersama anak-anak dan cucunya. Bahkan saat aktif sebagai Menteri Koperasi, Bustanil sering membawa cucu berkunjung ke daerah. Dia tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka. Soal kesenangan bagi-bagi rejeki dan ‘mentraktir’ wartawan dan siapa saja, tampaknya terbawa dari pengalaman kecilnya jua. Ayahnya, Achmad Idris, seorang pemborong. Ketika ayahnya memperoleh banyak untung, Bustanil sering memperoleh berbagai macam hadiah, berupa mainan dan alat keperluan sekolah. Tetapi, manakala sang Ayah merugi, harus sabar tidak mendapat apa-apa. Bahkan, barang-barang, termasuk rumah, pernah terpaksa dijual. Mantan Dirut PT PP Berdikari ini mengecap pendidikan HIS (1940) dan MULO (1942) di Medan. Dia menyukai pelajaran sejarah, terutama tentang tokoh-tokoh dunia. ‘Dia senang menimba pengalaman para tokoh itu. Dia mengagumi Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan HM Soeharto.

Dia mengaku banyak belajar dari Pak Harto. Bukan hanya masalah kepemimpinan yang timba dari Pak Harto, juga perihal menjaga kesehatan badan dan jiwa. Supaya bisa tenang menghadapi berbagai persoalan. Ketika pendudukan Jepang, saat Bustanil masih 18 tahun, dia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi perwira militer. Dia mengikuti latihan militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Lalu, sebentar dia ke Aceh, menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. Dia memberi pelajaran kemiliteran. Setelah mengikuti latihan militer itu dan lulus tes bakat dengan hasil baik, Bustanil terpilih menjadi salah seorang prajurit yang akan disekolahkan ke Akademi Militer di Tokyo, 1944. Namun karena Jepang bertekuk lutut pada Amerika Serikat pada Perang Dunia II, Bustanil urung ke Jepang. Lalu dia mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Sehingga harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946. Dia langsung diterjunkan ke front Medan Area, sebagai komandan peleton. Tergabung dalam Batalyon 3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera Utara. Setelah itu, karir militernya terus menanjak. Terakhir ia berpangkat letjen (purnawirawan).

Teman seperjuangannya ketika berjuang di Binjai, antara lain, Amran Zamzami, pernah menjabat Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi (bridge) dan Rachman Ramly, pernah menjabat Dirut PT Timah dan Dirut Pertamina.

Seusai perang, Bustanil yang haus ilmu menyempatkan diri kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga meraih gelar sarjana hukum. Ketika masih mahasiswa tingkat I, Bustanil berkenalan dengan R.A. Suhardani, siswa kelas III SGKP, seorang gadis cantik keturunan Jawa. Tak mau berlama-lama, setahun kemudian, mereka menikah. Keluarga ini dikaruniai emapat anak. Isterinya, yang akrab dipanggil Ibu Dani, aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.

Bustanil menjabat Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946), Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948) dan Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956). Kemudian dipercaya menjabat Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961) dan Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969).

Kemudian dia ditugaskan menjabat Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972) sebelum diangkat menjabat Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983) dan Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983). Kemudian dia diangkat menjabat Menteri Muda Urusan Koperasi merangkap Kepala Bulog (1978-1983), Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988) dan Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993).Selain itu, Bustanil juga aktif sebagai Deputi Ketua TMII (1974), Bendahara Yayasan Dharmais (1975), Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978). Juga Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982) dan Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981).

Pendidikan:

- HIS, Medan (1940)
- MULO, Medan (1942)
- Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
- Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
- Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)

Karir:

- Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
- Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
- Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
- Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
- Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
- Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
- Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983)
- Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983)
- Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan III(1978 — 1983)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993)

Kegiatan Lain:

- Deputi Ketua TMII (1974)
- Bendahara Yayasan Dharmais (1975)
- Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978)
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978)
- Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982)
- Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981)

Postingan Ini Dilindungi HAK Cipta, Dan menggunakan Anti Block Dan Copy dengan CSS3 (Belum bisa ditembus seperti Anti Copy Javascript) untuk menghindari Penjiplakan, Untuk Itu jika anda membutuhkan isi dari postingan ini untuk keperluan pembelajaran, anda dapat mengirimkan E-Mail ke djnand.dj@gmail.com

Silahkan Gunakan Facebook Comment, Jika Anda Tidak Memiliki Url Blog!

Comments for blogger! brought to you by DJ Note , Ingin Kotak Komentar seperti ini? KLIK DISINI!?


Artikel Terkait:

0komentar:

Poskan Komentar

Lestarikan Sejarah Bangsa Kita

Jika Anda ingin membalas komentar seseorang di postingan ini, anda bisa menggunakan fasilitas reply dengan cara mengawali komentar Anda pada baris pertama dengan:
@Nama Pengkomentar atau
@Kode Angka Komentar (Sering ada beberapa nick yang sama, maka Anda gunakan id komentar, id komentar berbeda setiap komentar, Klik lihat id komentar untuk mengetahuinya...)
Contohnya Penulisan Komentar:
@7203927038009495854.0
Sejarah yang patut Dilestarikan, terima kasih