Rabu, 03 Februari 2010

Facebook Dan Prostitusi

Sampai Minggu (31/1/2010) Vey belum bisa ditemui di rumah sakit yang terletak di belakang Gedung Satreskrim Polwiltabes Surabaya tersebut. Dia masih berada di ruang isolasi pemulihan pascaoperasi.


Menurut keterangan beberapa petugas, belum ada keluarga Vey yang mengunjungi tersangka kasus perdagangan manusia (trafficking) di bawah umur itu. Hanya beberapa orang, yang mengaku sebagai teman, yang berkunjung.


Kondisi kesehatan Vey belum pulih 100 persen karena luka bekas operasinya belum kering. Adapun bayi yang dilahirkan Vey berkelamin laki-laki dengan berat badan sekitar 2,8 kg dan panjang 48 cm, yang belum diberi nama.

“Dari hasil pemeriksaan, dia mengaku hamil di luar nikah dan tanpa suami. Siapa suaminya, dia tidak menyebut jelas, hanya menyebut pacarnya,” kata AKB Anom Wibowo, Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya, menjelaskan keberadaan Vey.


Sebagaimana diberitakan, anak buah Anom membongkar jaringan prostitusi yang melibatkan sejumlah remaja dari keluarga kaya yang bersekolah di SMA dan SMK favorit alias sekolah elite. Tarif mereka Rp 500.000-Rp 800.0000 sekali booking.

Germo para pelajar yang menyambi pelacur tersebut adalah Vey, warga Dukuh Kupang Timur, Surabaya. Dia dibantu Ach Afif Muslichin (21), warga Candi, Sidoarjo. Afif, antara lain, berperan sebagai operator komunikasi para anak buah Vey dengan para calon pelanggan menggunakan fasilitas internet.

Vey memanfaatkan jejaring sosial Facebook untuk memasang foto-foto para pelacur muda tersebut. Vey dan Afif ditangkap polisi di rumah masing-masing, Sabtu (30/1/2010) siang. Beberapa jam setelah ditangkap, Vey melahirkan melalui operasi Caesar.

Menurut sebuah sumber, Vey menjalankan bisnis prostitusi karena dirinya—saat masih duduk di bangku SMA—juga menjadi pelaku pelacuran. Alumnus sebuah SMA negeri di kawasan Surabaya utara itu kemudian mengajak mantan rekan-rekannya ketika SMA yang ingin mencari tambahan uang dengan melacur.

Hal itu berkembang dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya yang masuk dalam jaringan Vey beragam dan banyak, yaitu sekitar 20 orang, termasuk sejumlah perempuan usia sekolah.

Vey masih tercatat sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Surabaya. Kini dia terpaksa mrothol dari kuliah karena selain hamil di luar nikah juga berstatus tersangka dan bakal diadili sebagai terdakwa.

Sumber: Kompas

Toko Buku Online Belbuk.com