Kamis, 31 Desember 2009

Berpulangnya Sang Guru Bangsa


Jujur gw sendiri kaget s'maLem paz Denger Gus Dur meninggal dunia dan masih bener-bener ga percaya klo beliau memang sudah berpulang ke Hadirat Ilahi. Di hari-hari terakhir menyambut datangnya tahun yg baru ini bangsa kita justru kembali harus berduka karena berpulangnya sang guru bangsa ke Hadirat Ilahi dikarenakan komplikasi penyakit diabetes dan ginjal.

Begitu banyak yang udah beliau buat untuk bangsa Indonesia Ini, s'moga perjuangan beliau selama ini tidak sia-sia dan terakhir Blog sejarah bangsa Indonesia mengucapkan Selamat Jalan Gus Dur,....S'moga Allah S.W.T. mengaruniakan tempat yang mulia untukmu di sisi-Nya.....amin.....

Baca Juga:

continue reading Berpulangnya Sang Guru Bangsa

Pengakuan Kerabat: Gus Dur Sudah Isyaratkan akan Berpulang

Gus Dur sebenarnya sudah memberi isyarat kalau dia akan berpulang ke rahmatullah. Isyarat itu terlihat saat Gus Dur berziarah ke makam kakek dan ayahnya di makam keluarga di Ponpes Tebuireng, Jombang. Kala itu Gus Dur mengungkapkan jika dirinya akan kembali lagi pada tanggal 31 Desember.

"Saya tanggal 31 Desember akan kembali ke sini (Jombang,red)," kata salah satu kerabat Gus Dur yang bernama Agus Muhammad Zaki meniru perkataan Gus Dur, Kamis (31/12/2009).

Namun isyarat itu, tidak digubris oleh kerabat besar Gus Dur. Para kerabat menganggap perkataan itu hal yang biasa.

Mereka baru sadar setelah Gus Dur wafat. "Kalau Gus Dur ke mubarroq itu biasa dilakukan. Sehingga kita dan kerabat lainnya menganggap hal itu yang biasa dan kita baru sadar setelah beliau wafat," ungkapnya.

Gus Dur berziarah ke makam orangtuanya dan kakeknya pada Kamis, 24 Desember lalu. Usai berziarah, kondisi kesehatan Gus Dur sempat drop dan dibawa ke rumah sakit setempat.

Sumber: www.detiknews.com
continue reading Pengakuan Kerabat: Gus Dur Sudah Isyaratkan akan Berpulang

Sebelum Wafat Gus Dur Bercerita Ditemui Kakeknya, KH Hasyim Asy'ari

Mantan Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid telah berpulang ke Rahmatullah. Gus Dur memang selalu punya cerita unik dan menarik sampai akhir hayatnya.

Sebelum meninggal pukul 18.45 WIB, Gus Dur sempat bercerita kepada salah satu orang dekatnya soal pengalaman spiritual yang dialami. Menurut Gus Dur, saat berziarah ke makam kakeknya KH Hasyim Asy'ari di Tebu Ireng, Jombang, Gus Dur sempat bertemu dan berkomunikasi dengan Mbah Hasyim.

"Gus Dur bercerita kepada saya, saat ziarah ke makam Mbah Hasyim, Gus Dur ditemui Mbah Hasyim. Gus Dur bercerita soal pengalamannya dengan tenang dan senang wajahnya," kata sumber tersebut yang tidak mau disebutkan namanya, Rabu (30/12/2009).

Menurut orang yang selalu menemani Gus Dur ini, dalam percakapannya dengan Mbah Hasyim, Gus Dur mengaku dikasihani. Gus Dur pun hanya tersenyum saat dibilangi kakeknya tersebut.

"Gus Dur bilang, 'Mbah Hasyim kasian sama saya mas'. Mbah Hasyim mengatakan, Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo? (Nak, kok tugasmu bersih-bersih terus ya? Yang sabar ya?)," kata sumber itu menirukan Gus Dur.

Sayangnya, lanjut sumber itu, Gus Dur tidak melanjutkan lagi ceritanya soal pertemuan dengan Mbah Hasyim. Gus Dur langsung mengalihkan ke pembicaraan lainnya.

Selamat jalan Gus... Semoga engkau selalu mendapat pengampunan Allah SWT dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Sumber: www.detiknews.com
continue reading Sebelum Wafat Gus Dur Bercerita Ditemui Kakeknya, KH Hasyim Asy'ari

Detik Detik Menjelang Wafatnya Gus Dur

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, pukul 18.45 WIB, kesehatan mantan Presiden Abdurrahman Wahid dikabarkan sempat merosot pada pukul 11.00 WIB.


Dokter Aris Wibudi dari Tim Dokter Kepresidenan mengatakan kepada wartawan di RSCM, Rabu (30/12) untuk menuturkan kronologi detik-detik terakhir wafatnya Gus Dur, seperti yang dilansir VIVAnews .

Sabtu (26/12)

- Kesehatan Gus Dur sempat menurun. Namun kondisinya sempat membaik.

Rabu (30/12)

- Pukul 11.00 WIB, kondisinya memburuk akibat komplikasi penyakit diabetes dan ginjal.
Setelah dilakukan pengobatan intensif, kondisinya tetap memburuk.
- Pukul 18.15 WIB, Gus Dur kritis
- Pukul 18.45 WIB, Gus Dur dinyatakan wafat


Sumber: TvOne.co.id
continue reading Detik Detik Menjelang Wafatnya Gus Dur

Selasa, 29 Desember 2009

Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M.

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.

Peninggalan bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.

Kerajaan Mataram di Jawa Tengah

Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.

Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan menjadi raja Sriwijaya.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram di Jawa Timur

Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala.

Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



continue reading Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang berdiri pada abad ke-12. Kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Pusat kerajaanya terletak di tepi S. Brantas yang pada masa itu telah menjadi jalur pelayaran yang ramai.
Kerajaan Kediri lahir dari pembagian Kerajaan Mataram oleh Raja Airlangga (1000-1049). Pemecahan ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan di antara anak-anak selirnya. Tidak ada bukti yang jelas bagaimana kerajaan tersebut dipecah dan menjadi beberapa bagian. Dalam babad disebutkan bahwa kerajaan dibagi empat atau lima bagian. Tetapi dalam perkembangannya hanya dua kerajaan yang sering disebut, yaitu Kediri (Pangjalu) dan Jenggala. Samarawijaya sebagai pewaris sah kerajaan mendapat ibukota lama, yaitu Dahanaputra, dan nama kerajaannya diubah menjadi Pangjalu atau dikenal juga sebagai Kerajaan Kediri.

Perkembangan Kerajaan Kediri

Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.

Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268-1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri.

Runtuhnya Kediri

Setelah berhasil mengalah kan Kertanegara, Kerajaan Kediri bangkit kembali di bawah pemerintahan Jayakatwang. Salah seorang pemimpin pasukan Singasari, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke Madura. Karena perilakunya yang baik, Jayakatwang memperbolehkan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik sebagai daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini dimanfaatkan Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Ia bekerjasama dengan tentara Mongol dan pasukan Madura di bawah pimpinan Arya Wiraraja untuk menggempur Kediri. Dalam perang tersebut pasukan Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi berita tentang Kerajaan Kediri.

Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



continue reading Kerajaan Kediri

Kerajaan Majapahit


Kerajaan Majapahit adalah nama sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) yang didampingi oleh Patih Gadjah Mada (1331-1364), Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasannya.

Setelah Raja Kertanegara gugur dalam peristiwa penyerangan Raja Jayakatwang (Raja Kediri), berakhirlah riwayat Kerajaan Singasari. Raja Kertanegara beserta petinggi kerajaan lainnya tewas dalam penyerangan tersebut. Raden Wijaya (menantu Raja Kertanegara) segera melarikan diri ke Sumenep, Madura, dan mendapat perlindungan dari Arya Wiraraja, penguasa Sumenep. Raja Jayakatwang sangat menghormati Arya Wiraraja sehingga Raden Wijaya diampuni. Setelah mendapat pengampunan dari Raja Jayakatwang, Raden Wijaya beserta pengikutnya diizinkan untuk membabat hutan Tarik (sekarang menjadi Desa Trowulan, Jawa Timur) untuk dijadikan desa. Disinilah kemudian berdiri pusat Kerajaan Majapahit.

Kertarajasa Jayawardhana

Pada 1293 pasukan Kubilai Khan dari Cina datang dengan tujuan untuk menghancurkan Kerajaan Singasari. Mereka tidak mengetahui bahwa Singasari telah hancur. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijava untuk membalas dendam kepada Raja Jayakatwang.

Para Penguasa Majapahit

Raden Wijaya : (1309)
Jayanegara : (1309-1328)
Tribhuwanatunggaldewi : (1328-1350)
Hayam Wuruk : (1350-1389)
Wikramawardhana : (1389-1429)
Suhita : (1429-1447)
Kertawijaya : (1447-1451)
Rajasawardhana : (1451-1453)
Bhre Wengker : (1456-1466)
Singhawikramawardhana : (1466-1468)
Kertabhumi : (1468-1478)
Ranawijaya/Girindrawardhana : (1478-?)

Pasukan Raden Wijaya bekerjasama dengan Kubilai Khan yang berjumlah sekitar 20.000 orang. Dalam waktu singkat, Kerajaan Kediri hancur dan Raja Jayakatwang terbunuh. Pasukan Kubilai Khan kembali ke pelabuhan, namun di tengah perjalanan pasukan Raden Wijaya dengan bantuan pasukan Singasari dari Sumatera menyerang pasukan tersebut. Pasukan Kubilai Khan segera pergi dari tanah Jawa dan Raden Wijaya menjadi raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

Wilayah Kekuasaan

Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi seluruh Jawa (kecuali tanah Sunda), sebagian besar P. Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur hingga Irian Jaya. Perluasan wilayah ini dicapai berkat politik ekspansi yang dilakukan oleh Patih Mangkubumi Gadjah Mada. Pada masa inilah Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Keruntuhan Majapahit

Sepeninggal Raden Wijaya, Kerajaan Majapahit dilanda beberapa pemberontakan. Pemberontakan tersebut antara lain ialah pemberontakan Ranggalawe, Sora, dan Kuti selama masa pemerintahan Jayanegara (1309-1328), serta pemberontakan Sadeng dan Keta pada masa Tribhuwanatunggadewi (1328-1350). Pemberontakan baru dapat berakhir pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Setelah masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk, pamor Kerajaan Majapahit semakin menurun. Pada 1522, Kerajaan Majapahit hancur akibat terjadinya perang saudara. Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi runtuhnya Kerajaan Majapahit ialah munculnya Kerajaan Malaka dan berkembangnya kebudayaan Islam.

Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…

continue reading Kerajaan Majapahit

Kerajaan Singasari



Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara vang didirikan oleh Ken Arok pada 1222. Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara (1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa.

Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, pada 1222. Ken Arok pada mulanya adalah anak buah Tunggul Ametung, namun ia membunuh Tunggul Ametung karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengawini Ken Dedes. Pada saat dikawini Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama Anusapati yang kemudian menjadi raja Singasari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan Singasari adalah Kertanegara.

Ken Arok

Ketika di pusat Kerajaan Kediri terjadi pertentangan antara raja dan kaum Brahmana, semua pendeta melarikan diri ke Tumapel dan dilindungi oleh Ken Arok. Pada 1222, para pendeta Hindu kemudian menobatkan Ken Arok sebagai raja di Tumapel dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Adapun nama kerajaannya ialah Kerajaan Singasari. Berita pembentukan Kerajaan Singasari dan penobatan Ken Arok menimbulkan kemarahan raja Kediri, Kertajaya. la kemudian memimpin sendiri pasukan besar untuk menyerang Kerajaan Singasari. Kedua pasukan bertempur di Desa Ganter pada 1222. Ken Arok berhasil memenangkan pertempuran dan sejak itu wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri dikuasai oleh Singasari.

Kertanegara Ken Arok memerintah Kerajaan Singasari hanya lima tahun. Pada 1227 ia dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya (hasil perkawinan Tunggul Ametung dan Ken Dedes). Sepuluh tahun kemudian Anusapati dibunuh oleh saudara tirinya, Tohjaya (putra Ken Arok dengan Ken Umang)

Kematian Anusapati menimbulkan kemarahan Ranggawuni, putra Anusapati. Ranggawuni langsung menyerang Tohjaya. Pasukan Tohjaya kalah dalam pertempuran dan meninggal dunia dalam pelarian. Pada 1248 Ranggawuni menjadi raja Singasari bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Ranggawuni memerintah Kerajaan Singasari selama 20 tahun (1248-1268) dan dibantu oleh Mahisa Cempaka (Narasingamurti). Ranggawuni wafat pada 1268 dan digantikan oleh putranya, Kertanegara. la memerintah Kerajaan Singasari selama 24 tahun (1268-1292).

Ekspedisi Pamalayu

Kertanegara terus memperluas pengaruh dan kekuasaan Kerajaan Singasari. Pada 1275 ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).

Serangan Pasukan Mongol

Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa kali datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari. Namun Kertanegara telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun sebelumnya. Singasari kemudian dikuasai oleh Jayakatwang.

Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…

continue reading Kerajaan Singasari

Rabu, 16 Desember 2009

Sebab-sebab kemunduran kerajaan Sriwijaya

Kemunduran dan keruntuhan Kerajaan Sriwijaya disebabkan oleh beberapa hal berikut.


  1. Serangan Raja Dharmawangsa pada tahun 990 M, ketika itu yang berkuasa di Sriwijaya ialah Sri Sudamani Warmadewa. Walaupun serangan ini tidak berhasil, tetapi telah melemahkan Sriwijaya.

  2. Serangan dari Kerajaan Colamandala yang diperintahkan oleh Raja Rajendracoladewa pada tahun 1023 dan 1030. Serangan ini ditujukan ke semenanjung Malaka dan berhasil menawan raja Sriwijaya. Serangan ketiga dilakukan pada tahun 1068 M dilakukan oleh Wirarajendra, cucu Rajendracoladewa.

  3. Pengiriman ekspedisi Pamalayu atas perintah Raja Kertanegara, 1275-1292, yang diterima dengan baik oleh Raja Melayu (Jambi), Mauliwarmadewa, semakin melemahkan kedudukan Sriwijaya.

  4. Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudra Pasai yang mengambil alih posisi Sriwijaya.

  5. Serangan Kerajaan Majapahit dipimpin Adityawarman atas perintah Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1477 yang mengakibatkan Sriwijaya menjadi taklukan Majapahit


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya



continue reading Sebab-sebab kemunduran kerajaan Sriwijaya

Puncak Kejayaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Balaputradewa. Ia mengadakan hubungan dengan raja Dewapaladewa dari India. Dalam prasasti Nalanda yang berasal dari sekitar tahun 860 M disebutkan bahwa Balaputradewa mengajukan permintaan kepada raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mendirikan biara bagi para mahasiswa dan pendeta Sriwijaya yang belajar di Nalanda. Balaputradewa adalah putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa Tengah tahun 812 – 824 M.


Sriwijaya pernah pula menjadi pusat pendidikan dan pengembangan agama Budha. Seorang biksu Budha dari Cina bernama I-tsing pada tahun 671 berangkat dari Kanton ke India untuk belajar agama Budha. Ia singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa sansekerta. Di Sriwijaya mengajar seorang guru agama Budha terkenal bernama Sakyakirti yang menulis buku berjudul Hastadandasastra. Para biksu Cina yang hendak belajar agama ke India dianjurkan untuk belajar di Sriwijaya selama 1 – 2 tahun. Pada masa berikutnya, yaitu pada tahun 717 dua pendeta Tantris bernama Wajrabodhi dan Amoghawajra datang ke Sriwijaya. Kemudian, antara tahun 1011-1023 M datang pula pendeta dari Tibet bernama Attisa untuk belajar agama Budha kepada mahaguru di Sriwijaya bernama Dharmakirti.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya



continue reading Puncak Kejayaan Sriwijaya

Prasasti-prasasti kerajaan Sriwijaya

Kebesaran kerajaan Sriwijaya antara lain diberitakan dalam tujuh buah prasati peninggalannya.


  1. Prsasti Kedukan Bukit


Prasasti ini ditemukan di Kedukan Bukit, dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka (±683 Masehi) Menceritakan perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang dengan perahu. Ia berangkat dari Minangtamwan dengan membawa 20.000 tentara. Ia berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi makmur.

  1. Prasasti Talang Tuo


Prasasti Talang Tuo (dekat Palembang) yang berangka tahu 684 Masehi berisi berita tentang pembuatan Taman Riksetra atas perintah Dapunta Hyang ri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk.


  1. Prasasti Kota Kapur


Prasasti yang berangka tahun 686 M 8ni ditemukan di Kota Kapur, Pulau Bangka. Prasasti ini menyebutkan adanya ekspedisi Sriwijaya ke daerah seberang lautan ( Pulau Jawa) untuk memperluas kekuasaannya dengan menundu

kkan kerajaan-kerajaan disekitarnya, seperti Melayu, Tulangbawang, dan Tarumanegara.


  1. Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya mengenai kutukan-kutukan yang seram terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak taat kepada raja.


  1. Prasasti Karang Berahi


Prasasti ini ditemukan didaerah Karang Berahi, Jambi hulu. Berangka tahun 686 M dengan isi permin taan kepada Dewa yang menjaga Sriwijaya dan untuk menghukum setiap orang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya.


  1. Prasasti Ligor


Prasasti berangka tahun 775 M ini ditemukan di Tanah Genting Kra, Ligor.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya




continue reading Prasasti-prasasti kerajaan Sriwijaya

Sabtu, 12 Desember 2009

Faktor - Faktor Pendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Beberapa faktor yang mendorong perkembangan Kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan besar antara lain sebagai berikut.


  1. Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran dan perdagangan internasional.

  2. Kemajuan kegiatan perdagangan antara India dan Cina yang melintasi Selat Malaka sehingga membawa keuntungan yang besar bagi Sriwijaya.

  3. Keruntuhan Kerajaan Funan di Vietnam Selatan akibat serangan kerajaan Kamboja memberikan kesempatan bagi perkembangan Sriwijaya sebagai negara Maritim (Sarwajala), yang selama abad ke-6 dipegang oleh kerajaan Funan.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya





continue reading Faktor - Faktor Pendorong Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya



Berdasarkan berita-berita Cina dapat diketahui bahwa di Sumatra pada abad ke-7 sudah terdapat beberapa kerajaan, seperti To-lang-p’o-hwang (Tulangbawang di Sumatra Selatan), Molo-yeu (Melayu di Jambi), dan Shih-li-fo-shih atau Sriwijaya. Dalam sejarah Indonesia klasik, kerajaan Sriwijaya selalu disebut-sebut sebagai kerajaan yang megah dan jaya yang melambangkan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya



continue reading Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Tarumanegara


Berdirinya kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat hampir bersamaan waktunya dengan kerajaan Kutai. Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395).


Kata Taruma berhubungan dengan kata Tarum yang berarti nila atau biru. Sampai sekarang nama taruma masih digunakan sebagai nama sungai, yaitu Citarum (Ci=Sungai).


Maharaja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibu kota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Ibu kota baru itu bernama Sundapura. Menurut Prasasti Tugu pada tahun 417 Purnawarman memerintahkan penggalian sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Ia berhasil membawa Tarumanegara menjadi kerajaan besar. Kekuasaannya membentang dari daerah Bekasi di Timur sampai ke Banten Selatan di Barat.


Prasasti-prasasti lain yang menceritakan kerajaan Tarumanegara, yaitu Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu(Pasir Koleangkak), Prasasti Cidanghiang(Munjul), dan Prasasti Pasir Awi(Muara Cianten).


Dari isi beberapa prasasti tersebut disimpulkan bahwa Purnawarman menganut agama Hindu Waisnawa (aliran pemuja Dewa Wisnu). Adapun menurut Fa-Hien yang tiba di To-lo-mo pada abad ke-7 M diterangkan bahwa agama yang dianut masyarakat Tarumanegara adalah Hindu, Budha, dan animisme-dinamisme.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya


continue reading Kerajaan Tarumanegara

Rabu, 09 Desember 2009

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang bediri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan Ini dibangun oleh Kundunga. Diduga ia belum menganut agama Hindu.

Peninggalan terpenting kerajaan Kutai adalah 7 prasasti yupa, dengan huruf Pallawa dan Bahasa Sansekerta. Prasasti Yupa berupa tiang-tiang batu untuk mengikat hewan kurban. Salah satu Yupa menyatakan bahwa “Maharaja Kundunga mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan dengan Ansuman (De

wa Matahari). Aswawarman mempunyai 3 ora

ng putra, yang paling terkemuka adalah Mulawarman.”

Mulawarman merupakan raja termasyur Kutai. Ia pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para Brahmana. Untuk memperingati hal itu, para brahmana mencatatnya dalam prasasti Yupa. Salah satu prasasti juga menyebut kata Waprakeswara yaitu tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya



continue reading Kerajaan Kutai

Perkembangan Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Bukti tertua adanya pengaruh India di Indonesia adalah ditemukannya arca Budha dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Arca Ini berlanggam seni arca Ammarawati, India Selatan. Arca sejenis juga ditemukan di Jember, Jawa Timur, dan di daerah Bukit Siguntang, Sumatra Selatan. Perkembangan kebudayaan India di Indonesia ditunjukkan pula oleh adanya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya



continue reading Perkembangan Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia

Teori masuknya Hindu-Budha ke Indonesia

Adanya hubungan dagang antara Indonesia dengan India berpengaruh besar terhadap masuknya budaya Hindu-Budha ke Indonesia. Agama Budha disebarluaskan ke Indonesia oleh para Biksu, sedangkan mengenai pembawa agama Hindu ke Indonesia sejarawan mengemukakan lima teori sebagai berikut:


a. Teori Brahmana

Dengan melihat unsur-unsur budaya India yang berpengaruh ke Indonesia, J. C. van Leur mengutarakan bahwa kaum brahmana sangat berperan dalam penyebaran agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia. Mereka datang atas undangan para penguasa Indonesia. Kaum brahmana diundang ke Indonesia untuk melakukan upacara khusus menjadikan seseorang menjadi pemeluk Hindu yang disebut vratyastoma.


b. Teori Ksatria

Teori ini dikemukakan oleh F. D. K. Bosch. Ia menyatakan bahwa adanya raja-raja dari India yang datang menaklukan daerah daerah tertentu di Indonesia telah mengakibatkan penghinduan penduduk setempat. Terhadap teori ksatria, van Leur mengajukan keberatan. Menurutnya, jika memang raja-raja India pernah menaklukan daerah tertentu di Indonesia, maka hal itu akan dicatat dalam sumber-sumber sejarah baik di India maupun di Indonesia. Raja-raja india biasanya membangun sebuah tugu kemenangan yang disebut Jayastamba.


c. Teori Waisya

Menurut N. J. Krom, golongan pedagang dari kasta waisya merupakan golongan terbesar yang datang ke Indonesia. Mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peran penting dalam proses penyebaran kebudayaan India.


d. Teori Sudra

Teori Ini menyatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kasta sudra. Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan untuk mengubah kehidupan karena di India mereka hanya hidup sebagai pekerja kasar dan budak.


e. Teori Campuran

Teori ini beranggapan bahwa baik kaum Brahmana, Ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran masing-masing.


Terima Kasih atas kunjungannya ke blog Ini…

Tolong tinggalkan komentar anda setelah membaca ataupun meng-copy isi blog ini…


Lestarikan Sejarah Bangsa Kita…



Baca Lanjutannya


continue reading Teori masuknya Hindu-Budha ke Indonesia

Minggu, 06 Desember 2009

Pengertian Orde Baru

Pengertian Orde Baru


Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan Orde Lama Soekarno.

Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.

Politik

Presiden Soeharto memulai "Orde Baru" dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir masa jabatannya.

Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru. Pengucilan politik — di Eropa Timur sering disebut lustrasi — dilakukan terhadap orang-orang yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar Mahkamah Militer Luar biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat "dibuang" ke Pulau Buru.

Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol ).

Orde Baru memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang pembangunan antara pusat dan daerah.

Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.

Perpecahan bangsa

Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang disertai sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.

Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam bentuk konflik Ambon dan konflik Madura - Dayak di Kalimantan. Sementara itu gejolak di Papua yang dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para transmigran.

Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru

  • perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS $ 70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
  • sukses Transmigrasi, yang disertai segala dampak negatifnya
  • sukses KB
  • sukses memerangi buta huruf

Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru

  • semaraknya korupsi, kolusi dan nepotisme
  • pembangunan Indonesia yang tidak merata
  • bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
  • kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
  • kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel

Krisis finansial Asia

Pada pertengahan 1997, Indonesia diserang krisis keuangan dan ekonomi Asia, disertai kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir dan harga minyak, gas dan komoditas ekspor lainnya yang semakin jatuh. Rupiah jatuh, inflasi meningkat tajam, dan perpindahan modal dipercepat. Para demonstran, yang awalnya dipimpin para mahasiswa, meminta pengunduran diri Soeharto. Di tengah gejolak kemarahan massa yang meluas, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, tiga bulan setelah MPR melantiknya untuk masa bakti ketujuh. Soeharto kemudian memilih sang Wakil Presiden, B.J Habibie untuk menjadi presiden ketiga Indonesia.

Pasca-Orde Baru

Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan " Era Reformasi ".

Masih adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi sering disebut sebagai "Era Pasca Orde Baru".

Sumber dari Wikipedia Indonesia



5
continue reading Pengertian Orde Baru

10 Hal Positif Orde Baru

10. Rendahnya angka kemiskinan

Hmm… kemiskinan.. apa pemerintah lupa ya sama pasal 34 UUD 1945?? Angka kemiskinan yang semakin meninggi harusnya juga menjadi perhatian pemerintah. Miskin karena menurunnya daya beli, miskin karena kebijakan pemerintah yang tidak tepat sasaran.

9. Berkembangnya pertanian

Orde baru banyak memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada petani untuk meningkatkan pertanian. Termasuk beberapa program yang mendukung peningkatan kualitas para petani. Sekarang, udah gak ada lagi program-program penyuluhan. Petani dilepas gitu aja tanpa bimbingan, klo kualitas panennya jelek, tinggal impor aja dari negara tetangga tercinta. Akibatnya… harga gabah lokal merosot, daya beli petani menurun, dan sebagainya dan sebagainya

8. Swasembada pangan

Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengekspor beras dan pernah juga mengirim bantuan pangan kepada negara2 yang sedang gak stabil keamanannya. Nah klo sekarang… justru kita jadi negara pengimpor beras yang notabene adalah negara agraris.

Indonesia kan lebih luas dari pada Thailand, tapi kenapa hasil panennya jauh di bawah Thailand. Tanya kenapa???

7. Mudah mendapatkan pekerjaan

Dulu orang dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Ikatan dinas, program kemitraan, ato apalah namanya. Begitu krisis ekonomi melanda pada 1998 kemarin, banyak perusahaan yang gulung tikar, klo gak punya tikar paling2 merumahkan sebagian karyawannya. Selama 10 tahun terakhir jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia jauh lebih kecil dari pada jumlah angkatan kerja untuk tiap tahunnya.

6. Biaya pendidikan murah

Pendidikan…. hmm… seharusnya menjadi hak bagi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Melihat kondisi sekarang, pendidikan yang layak hanya berlaku bagi mereka yang memiliki duit yang lebih alias menengah ke atas. Sisanya… ya begitulah…

5. Stabilitas politik

Jaman Orde Baru, identik dengan pemerintahan yang represif. Segala aspek kehidupan diawasi dengan ketat oleh pemerintah, termasuk media. Gimana gak stabil, lha wong semuanya dah diatur & dikendalikan dari pusat.

4. Pembangunan terencana

Pernah dengar yang namanya Pelita, (Pembangunan Lima Tahun) atau Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun)? Ini adalah salah satu tanda bahwa pada masa orde baru dulu, pemerintah punya target pembangunan yang ingin dicapai untuk 5 tahun ke depan. Jadi ada semacam guideline dalam menjalankan pemerintahan. Gak kayak sekarang yang seenaknya bikin kebijakan baru seenak jidat, gak mikirin gimana efeknya buat masa depan.

3. Ekonomi Stabil

Kebijakan ekonomi yang diambil dapat menumbuhkan perekonomian rakyat dan mampu menekan angka inflasi. Tapi, kebijakan yang diambil konon mewariskan sebuah keadaan yang dinamakan krisis ekonomi

2. Keamanan Terjamin

Ngomongin tentang keamanan sudah pasti aman. Tapi tidak bagi mereka yang tidak suka dengan Soeharto, termasuk para preman dan residivis. Klo kita ingat lagi, dulu pernah ada operasi Petrus (Penembak Misterius) yang kerjaannya sniping para dedengkot preman & mayat nya dibuang di persawahan. Nah, karena tindakan represif ini makanya keamanan terjamin. Tapi bagaimana dengan HAM ?

1. Harga Sembako & BBM murah

Harga sembako dan BBM yang murah merupakan hal yang paling pokok dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jadi inget, dulu beli bakso 1500 rupiah semangkok dah meriah banget.

Melihat keadaan jaman Orde Baru dengan keadaan pasca reformasi yang sudah berjalan 1 dekade ini, sepertinya blm ada kemajuan yang berarti.

continue reading 10 Hal Positif Orde Baru